Krisis Empati di Era Viral: Ketika Kebaikan Harus Dipaksa

Oleh: Desya Elma Nizami

Belakangan ini, media sosial dipenuhi ironi: semakin banyak orang berbicara tentang kebaikan, tetapi semakin sedikit yang benar-benar melakukannya. Kasus-kasus viral menunjukkan bagaimana seseorang bisa dengan mudah mengabaikan penderitaan orang lain – bahkan menjadikannya hiburan.

Dari komentar jahat di kolom media sosial hingga tindakan acuh terhadap sesama di kehidupan nyata, kita seolah hidup di era di mana empati tidak lagi menjadi refleks, melainkan pilihan. Dan lebih mengkhawatirkan lagi, pilihan itu sering kali diabaikan.
Fenomena ini mengingatkan pada kisah The Wizard and the Hopping Pot karya J. K. Rowling.

Dalam cerita tersebut, seorang penyihir muda menolak membantu orang-orang di sekitarnya, meskipun ia memiliki kemampuan untuk melakukannya. Ia merasa bahwa penderitaan orang lain bukan urusannya. Namun, yang menarik, perubahan dalam dirinya tidak lahir dari kesadaran – melainkan dari tekanan. Sebuah pot ajaib “memaksa” ia merasakan penderitaan yang selama ini ia abaikan. Ia baru berubah setelah tidak lagi sanggup menahan konsekuensi dari sikapnya sendiri.

Cerita ini terasa sangat relevan dengan kondisi hari ini.
Di era digital, banyak orang hanya mulai peduli ketika suatu isu sudah viral. Ketika sebuah kasus mendapat perhatian publik, barulah muncul empati massal: donasi, dukungan, hingga kampanye sosial. Namun sebelum itu? Banyak yang memilih diam. Seolah-olah, kita membutuhkan “tekanan sosial” untuk menjadi manusia yang peduli. Padahal, sebagaimana tergambar dalam analisis terhadap cerita tersebut, empati seharusnya bukan sesuatu yang dipaksakan, melainkan dibangun dari kesadaran sejak awal. Namun realitas menunjukkan hal sebaliknya – bahwa tanpa konsekuensi atau tekanan, banyak orang memilih untuk tidak terlibat.

Masalah ini semakin kompleks karena media sosial menciptakan jarak emosional. Kita melihat penderitaan orang lain melalui layar, tanpa benar-benar merasakannya. Akibatnya, tragedi menjadi konten, dan empati berubah menjadi reaksi sesaat. Lebih jauh lagi, ada kecenderungan untuk menilai siapa yang “layak” mendapat bantuan. Jika seseorang dianggap tidak cukup “menarik” atau tidak cukup viral, maka penderitaannya sering kali diabaikan. Ini menunjukkan bahwa empati kita tidak hanya menurun, tetapi juga menjadi selektif. Kondisi ini tentu berbahaya.

Masyarakat yang kehilangan empati akan lebih mudah terpecah, lebih mudah menghakimi, dan lebih sulit untuk saling memahami. Yang perlu disadari adalah bahwa tidak semua orang akan mendapatkan “peringatan” seperti tokoh dalam cerita tersebut. Tidak semua orang akan dipaksa untuk berubah. Dalam kehidupan nyata, banyak kerusakan terjadi tanpa ada kesempatan kedua.

Oleh karena itu, penting untuk kembali mempertanyakan: mengapa kita perlu menunggu viral untuk peduli? Kebaikan seharusnya tidak membutuhkan panggung. Empati seharusnya tidak bergantung pada algoritma. Dan kepedulian seharusnya tidak menunggu validasi publik. Jika tidak, kita mungkin akan terus hidup dalam siklus yang sama – menjadi penonton atas penderitaan orang lain, hingga suatu saat, tanpa kita sadari, kita berada di posisi yang sama. (***)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *